09 April 2016

Sayonara.

Ilustrasi (Anohana: Jintan - Menma)


Dinta duduk di dekat taman sebelah rumah. Memperhatikan anak kecil yang teriak seru bermain satu sama lain. Tak lupa sebuah novel dibacanya untuk menghabiskan sore hari tanpa sia-sia. Harry Potter : The Deathly Hallows sedang dibacanya, padahal kalau ingin tahu akhir dari cerita karangan J.K Rowling itu, dia tinggal menonton filmnya saja. Tapi itu bukan Dinta, dia pasti memilih berfantasi sendiri untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasinya. Tidak seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya yang lebih gemar mengutak-atik motor, kebut-kebutan, atau malam mingguan, Dinta lebih memilih santai sorenya dihabiskan dengan membaca buku yang ditargetkannya selesai dalam tiga hari lagi. Larut menuju malam, jam sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh tiga menit, Dinta memutuskan pulang, bersiap untuk makan malam bersama keluarga.

IPhone Dinta berdering beberapa kali. Ternyata pesan masuk dari Nisa, pacar Dinta. Tapi pesan yang masuk lebih dari satu, tumbenan sekali Nisa mengirimkan pesan lebih dari sekali, kalaupun penting, dia akan menelpon. Dinta yang baru sampai ke kamar, langsung menghampiri IPhone-nya untuk mengecek pesan yang sedari luar sudah terdengar nada deringnya berulang kali. Membuka passcode, kemudian membaca semua pesan dari Nisa dan Dinta pun terdiam.
 
Di semua pesan yang dikirimkan Nisa, dia hanya menuliskan "Aku mau kita putus", deg! Hati siapa yang tidak akan terkejut saat mempunya hubungan yang semula baik-baik saja, dan seketika meminta hubungan itu berakhir. Dinta yang panik mencoba menghubungi Nisa, berharap dia akan mengetahui jawaban kenapa hubungan yang sudah berjalan satu tahun lebih ini harus berakhir tanpa sebuah alasan. Berulang kali mencoba menelepon Nisa, Dinta hanya mendapati nomor yang dihubungi sudah tidak aktif, bukan tipe Nisa sama sekali, Nisa adalah orang yang pasti menyiapkan powerbank dimanapun dan kapanpun agar handphone-nya terus aktif. Mengambil kunci motor, Dinta bergegas menuju garasi untuk menyiapkan motornya, tujuannya hanya satu, rumah Nisa.


"Dinta mau kemana? Magrib-magrib gini kok mau keluar?", Seru Ibu melihat Dinta terburu-buru turun dari tangga.

"Ada perlu Bu, bentar aja, penting banget nih"

"Halah, paling mau nemuin pacarnya tuh Bu, berantem kali, ini kan malem minggu, Dinta mana pernah ngapelin cewenya", teriak Gynta lantang dari dapur. 

Tak menghiraukan kakaknya, Dinta menuju garasi dan kemudian berangkat ke rumah Nisa. Perjalanan yang harus ditempuh memakan waktu lebih kurang 45 menit, karena memang rumah Dinta dan Nisa lumayan jauh dan tidak ada jalan potong untuk sampai lebih cepat. Nisa adalah pacar kesayangan Dinta, pacar pertamanya. Sekian lama menjadi jomblo, cuma Nisa yang mengerti Dinta sampai seluk-beluknya Dinta. Butuh perjuangan ekstra untuk bisa jadi pacar Nisa, salah satunya, Dinta harus menunggu hingga lebih dari enam bulan hanya untuk pendekatan, lumayan lama untuk sebuah kata "pendeketan" bagi remaja umum lainnya. Berusaha tetap sabar saat tahu ternyata yang mendekati Nisa ngga cuma dia, banyak teman-temannya yang lain mengejarnya. Bak kena sihir, Dinta mau mati-matian tetap sabar mendekati Nisa dan pada akhirnya Nisa pun luluh dengan perjuangan yang dilakukan Dinta.

Setahun memiliki ikatan hubungan sebagai "pacar", Dinta dan Nisa bisa dibilang memiliki hubungan yang romantis, meskipun tidak terlalu. Dinta yang awalnya cuek tentang urusan wanita, menjadi laki-laki paling perhatian yang pernah ada. Membelikan cokelat kesukaan Nisa, membawakan bekal mie goreng kesukaan Nisa, ya apapun hal yang disukai Nisa, Dinta pasti akan mengusahakan untuk memberikannya. Pada dasarnya Nisa adalah satu-satunya hal yang menjadi penting bagi Dinta saat itu, dan membaca Novel, bisa menjadi pilihan ke-sekian. Nisa yang luluh dengan perjuangan Dinta merasa nyaman berada di dekat Dinta, pun berharap terus bersama Dinta. Namun, semuanya berubah sampai saat dimana pesan-pesan itu terkirim, seketika langit cerah seperti berduka dan berubah menjadi hitam berawan.

==

Sesampainya Dinta di rumah Nisa, bel rumah pun dibunyikan. Seorang perempuan paruh-baya keluar menuju pagar yang berwarna biru itu. Tidak ada, Nisa tidak berada di rumah, ternyata itu adalah Ibu Nisa yang sedari siang tidak mengetahui keberadaan Nisa. Nisa beralasan pamit untuk keluar bersama temannya, namun sampai saat ini, Nisa belum pulang dan tidak dapat dihubungi. Dinta berpamitan untuk mencoba mencari Nisa, berpikir keras dimana kemungkinan Nisa saat dia sedang tidak memiliki suasana hati yang baik. Tiba-tiba Dinta teringat satu tempat. Langsung saja motornya digas dalam-dalam menuju tempat yang terlintas dipikirannya.

Benar, Nisa berada di taman kolam, tempat dimana Dinta menyatakan perasaannya ke Nisa pertama kali. Berlari menuju arah Nisa, Dinta tak menghiraukan motornya yang terparkir tidak sesuai dengan tempatnya. Menangis, Nisa sedang menangis sendirian, sembari memperhatikan air mancur yang ada di depannya. Tidak baik, walaupun Dinta tahu kalau Nisa adalah anak yang cengeng, dia tidak akan secengeng ini kalau hal itu tidak sampai melukai hatinya. Dinta berhenti tepat di depan Nisa, dengan nafas yang masih terengah-engah, Dinta berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Hey, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba sms kaya barusan?"

"Kamu tuh ngga tahu aku Ta, kamu ngga tahu apa-apa tentang aku!", bentak Nisa.

"Kalau gitu biarin aku tahu kamu kenapa? Aku gamau kita putus tapi aku ngga tahu alasannya.", Dinta berusaha tenang, walaupun dia tahu keadaan tidak akan pernah kembali normal.

"Aku masih menyukai orang lain Ta, orang lain yang lebih dulu aku sukain sebelum aku suka kamu!"

Seketika itu Dinta terdiam, tak berkata-kata lagi. Tatapannya kosong, tidak mengerti dengan orang yang sedang ada dihadapannya. Berbulan-bulan bersama dan ternyata dia masih memiliki perasaan dengan orang lain. Dinta tertunduk pilu, perasaannya campur aduk. Laki-laki memang ditakdirkan untuk kuat dalam segala hal, namun tidak semua, Dinta mulai meneteskan air matanya. Nisa adalah orang yang ia perjuangkan, dan menerima kabar ini Dinta tidak bisa kuat, dia mendadak rapuh, merasakan sakit, merasakan apa itu patah hati. Pilu.

"Kenapa baru bilang sekarang?", tanya Dinta sembari menghapus air mata yang memenuhi kacamatanya, mengganggu penglihatannya.

"Aku takut, aku kira aku udah biasa aja, tapi ternyata ngga, aku masih mikirin dia."

"Indra ya? Anak IPS 2 itu pasti kan?"

Nisa tidak bisa membalas pertanyaan Dinta. Keheningan terjadi diantara mereka berdua. Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, angin yang berhembus lebih kencang. Tempat itu seperti benar-benar disiapkan untuk mereka berdua, tak ada orang lain yang memperhatikan, hanya mereka berdua. Nisa tetap menangis, Dinta tidak tahu harus berbuat apa. Dia berada tepat di depan orang yang dia sayangi, tapi dia bukanlah satu-satunya yang disayangi orang di depannya. Setelah beberapa lama saling diam, Dinta berdiri dan memutuskan untuk mengajak Nisa pulang.

"Pulang yuk, aku anterin kamu ke rumah, Ibu kamu nyariin dari tadi Siang, kamu juga ngga bisa ditelepon."

"Kenapa kamu harus repot-repot nganterin aku pulang?"

"Biarin aku ngerasain, terakhir kali nganterin kamu pulang itu kaya gimana, nganterin orang yang paling aku sayang."

Nisa menyetujui ajakan Dinta. Di perjalanan pulang, benar-benar tak ada percakapan, semuanya hening, diam, seolah tidak ada pertanyaan. Dinta berusaha untuk tetap tenang, berpikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja, walaupun dia tidak tahu hari esok akan seperti apa tanpa Nisa. Yang mengganggu benaknya adalah, bagaimana selama ini dirinya merasakan sayang satu sama lain, disaat hati Nisa, ternyata masih memikirkan orang lain. Dinta tidak ingin memikirkan hal itu lebih dalam, hanya menambah luka. Sesampainya di depan rumah Nisa. Dinta dan Nisa saling tatap satu sama lain, menebak siapa yang akan memulai percakapan untuk terakhir kalinya. Namun, sepertinya hanya senyuman Dinta yang menjadi salam perpisahan malam itu.

"Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih kepada menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa dipaksa untuk diteruskan. Move on" - Unknown.




End.


 
==============================

Sumber gambar : Jintan

3 comments:

  1. ah, kasian sekali di dinta ini.
    tapi gue setuju dengan pernyataan itu. Merelakan bukan berarti menyerah. :)

    ReplyDelete
  2. Gue setuju sama quotemu.. :v Move on itu bukan melupakan, tapi mengikhlaskan Bro...

    ReplyDelete
  3. Dinta... Diputusin itu sakit, apalagi pas sayang-sayangnya. :') eh curhat

    ReplyDelete

Udah Baca kan? Kasih Comment lo ya .