09 April 2016

Sayonara.

7:47 PM
Ilustrasi (Anohana: Jintan - Menma)


Dinta duduk di dekat taman sebelah rumah. Memperhatikan anak kecil yang teriak seru bermain satu sama lain. Tak lupa sebuah novel dibacanya untuk menghabiskan sore hari tanpa sia-sia. Harry Potter : The Deathly Hallows sedang dibacanya, padahal kalau ingin tahu akhir dari cerita karangan J.K Rowling itu, dia tinggal menonton filmnya saja. Tapi itu bukan Dinta, dia pasti memilih berfantasi sendiri untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasinya. Tidak seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya yang lebih gemar mengutak-atik motor, kebut-kebutan, atau malam mingguan, Dinta lebih memilih santai sorenya dihabiskan dengan membaca buku yang ditargetkannya selesai dalam tiga hari lagi. Larut menuju malam, jam sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh tiga menit, Dinta memutuskan pulang, bersiap untuk makan malam bersama keluarga.

IPhone Dinta berdering beberapa kali. Ternyata pesan masuk dari Nisa, pacar Dinta. Tapi pesan yang masuk lebih dari satu, tumbenan sekali Nisa mengirimkan pesan lebih dari sekali, kalaupun penting, dia akan menelpon. Dinta yang baru sampai ke kamar, langsung menghampiri IPhone-nya untuk mengecek pesan yang sedari luar sudah terdengar nada deringnya berulang kali. Membuka passcode, kemudian membaca semua pesan dari Nisa dan Dinta pun terdiam.
 
Di semua pesan yang dikirimkan Nisa, dia hanya menuliskan "Aku mau kita putus", deg! Hati siapa yang tidak akan terkejut saat mempunya hubungan yang semula baik-baik saja, dan seketika meminta hubungan itu berakhir. Dinta yang panik mencoba menghubungi Nisa, berharap dia akan mengetahui jawaban kenapa hubungan yang sudah berjalan satu tahun lebih ini harus berakhir tanpa sebuah alasan. Berulang kali mencoba menelepon Nisa, Dinta hanya mendapati nomor yang dihubungi sudah tidak aktif, bukan tipe Nisa sama sekali, Nisa adalah orang yang pasti menyiapkan powerbank dimanapun dan kapanpun agar handphone-nya terus aktif. Mengambil kunci motor, Dinta bergegas menuju garasi untuk menyiapkan motornya, tujuannya hanya satu, rumah Nisa.

03 April 2016

Album Biru

4:32 PM
Ilustrasi (Anohana: Jintan, Menma)


Hari selasa pukul 6.45 pagi, aku sudah duduk untuk bersiap sarapan. Biasanya, aku hanya sarapan sendiri, namun pagi kali ini ada yang beda, Ayah sudah berada di ruang makan dan menungguku untuk sarapan bersama. Menu pagi kali ini adalah nasi goreng, makanan kesukaanku. Ditambah lagi, Ibu mencampurkan antara baso ikan dan sosis ayam di dalamnya, hmm so yummy. Tak ada yang berbeda, hanya saja aku jadi ada waktu lebih untuk dapat ngobrol bareng Ayah.

Setiap sarapan, pandanganku tak lepas dari satu bangku yang tersisa di ruang makan. Seharusnya, kursi itu ada yang mengisi, dan kami tidak perlu hanya berkumpul bertiga. Mungkin itu salah satu penyebab Ibu tak lagi menjadi orang yang seceria dulu. Ibu, selalu memasak masakan untuk porsi 4 orang, walaupun Ibu tahu hanya ada aku, Ayah dan Ibu yang tinggal di rumah. Aku sisihkan nasi yang tersisa ke tempat sampah, mengambil tas dan sepatu lalu bersiapku untuk berangkat.

"Bu, Yah, Dinta berangkat duluan ya", Ucapku setelah menali sepatu converse hitamku.

"Ayah juga Bu, Ayah berangkat ya", Terlihat Ayah yang masih merapihkan dasinya sembari berjalan menuju mobil.

"Yah, kok tumben berangkat pagi banget? Biasanya jam 8-an baru berangkat ke kantor", tanyaku sambil menuntun sepeda keluar pagar.

"Ya terpaksa dek, ada yang harus Ayah kerjain, kemarin Ayah ngga sempat lembur, Ibu nangis kemarin sore waktu adek les, jadi Ayah harus pulang dan ninggalin kerjaan. Ayah jalan duluan ya dek, kamu hati-hati naik sepedanya", Senyum Ayah sewaktu menutup kaca jendela mobil membuat aku memikirkan tentang Ibu.

Sembari aku menuju ke sekolah, aku sempat berhenti dan memikirkan beberapa hal dipagi hari ini. Tentang Ibu yang tidak mengucapkan sepatah kata pun saat di ruang makan, dan Ayah yang baru memberi tahuku kalau Ibu kemarin sore menangis. Penasaranku pun meninggi namun ini tak sampai mengganggu benakku. Lagu pada playlist handphone-ku nyalakan setelah memasang earphone, dan aku melanjutkan perjalanan untuk menuju ke sekolah.